SEMU

Aku, kau,
sama: semu.

“Kita angin!”
kata Ingin.

Tapi muara kata
– pita suara kita –
kini tak disini.

.

Kita ingin angin
bawa wabah kata
kembali pergi.

Agar raga
aku, kau,
nyata tanpa tanya.

Karna jika,
hanya jika,
tiada ikat
pada kita,
kita nyata.

Tapi nyatanya,
aku, kau,
sama: semu.

Sonnet XVII

oleh Pablo Neruda
alihbahasa oleh Wana

Aku tidak mencintaimu sebagai mawar, topaz,
atau panah anyelir yang menyebarkan api.
Aku mencintaimu sebagai benda gelap yang harus dicinta,
dengan rahasia, diantara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu sebagai tumbuhan tak berbunga
yang menyembunyikan serbuk keindahan;
Dan, karena cintamu, suatu aroma istimewa
bangkit dari bumi, bersemayam dalam gelap diri ini.

Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana, kapan, atau dari mana.
Aku mencintaimu dengan tulus, tanpa harga diri dan kerumitan;
maka aku mentintaimu karena aku tak tau cara lain

selain ini: dimana tiada kamu, atau aku,
begitu dekat hingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat hingga matamu menutup saat aku tertidur

blokir

lagi-lagi tentang kamu

kalau tau, pasti kamu juga bosan
menatap puisi yang menumpuk
dan kata-kata yang kini busuk, tapi

lagi-lagi tentang kamu

kalau tau, pasti kamu juga kasihan
melihat otakku diblokir bayangmu
dan tercemar oleh eksistensimu, tapi

lagi-lagi tentang kamu

kalau tau, pasti kamu juga ragu
blokir cintamu
dan aku, tapi

lagi-lagi tidak

Sungai Darah

2014

Aku punya globe baru.
Apabila kuputar, langit berubah warna.
Aneh sekali.
Padahal murah.

Globe ini aneh!
Mengapa negeriku tak ada namanya?
Mengapa lebih kecil dari biasanya?
Aneh sekali.

Tapi ada yang lebih aneh lagi.

Ada negara yang berwarna merah!
Negara yang besar sekali.
Namanya sama, entah apa.
Aku tak mengerti bahasa.

Pasti ini negara pemberani!
Merah itu warna berani!
Lihatlah orang bertangan merah.
Mereka berani atau apa?

Kulihat lagi globe baruku.
Semakin banyak yang berubah!
Warnanya semakin merah!
Kenapa bisa begini?

Daratan sudah merah semua.
Laut sudah mulai tercemar!
Globe ini sudah rusak!
Apa bumi memang begini?

Ya sudahlah.
Akan kucari globe baru.
Yang ini kubuang saja,
ke sungai darah itu.

 

HANYA DUSTA

2014

Aku diam.
Hanya diam.
Benar-benar diam.
Lalu kau bilang, aku berjalan.

Aku berjalan.
Hanya berjalan.
Benar-benar berjalan.
Lalu kau bilang, aku berlari.

Aku berlari.
Hanya berlari.
Benar-benar berlari.
Lalu kau bilang, aku diam.

Aku kesal.
Hanya kesal.
Benar benar kesal.
Kau bohong.

KACAU

2016

Tentang kacau yang tumbuh bagai bunga,
Aku bercerita
Meski jiwaku terus memerintah
Selalu berkata: nikmatilah

Tapi nikmat apa? Kutanya
Lihatlah dunia yang tiada!
Aku hanya melihat kacau
Gelap dan kacau

Juga tawa jahat yang kini menjamur
Mengakar dan tumbuh subur
Mereka menyamar! Seolah penting
Padahal mereka penyebab genting

Tapi apa mereka pantas tertawa?
Mereka hanya lihat depan mereka!
Mereka tidak lihat tawa yang rahasia!
Dirahasiakan. Direncanakan.

Di sisi lain

Air mata habis. Tinggal darah
Ramah menghilang, jadi amarah
Mereka menyatu dengan kacau!
Mereka, kacau

Aku hanya melihat kacau!
Apa hanya aku?

Lucu.
Saling acuh?
Jelas jatuh!
Rapuh

Maka pada kacau yang lucu bagai bebek
Aku mengejek
Kita sama-sama kacau
Kenapa tak kacau sama-sama?

Kacau.