the way I love

I love the way
you love all the way.
And all the way you love,
I love all the way.

And the way you don’t,
like the way you do
to me, I still do.

For in all way love be,
you are all
I love
all the way,
in all way you be.

Advertisements

Elegi #1 : Eksistensi

Maaf, teman.
Aku tak mengerti eksistensi.

Karena meski aku merasa,
aku ada hanya terkadang, dan
kala itu pun aku meradang.

Apa karena kujadikan sekat sahabat
-juga sunyi, gelap, dan semua lainnya-
atau apa (hanya) karena aku salah mengerti?

Malam sering bertanya padaku, tahukah?
Tentang keramaian yang kesepian,
tentang yang berbicara dalam diam,
tentang alasan kita untuk tetap buta,
setelah ia bawa gelapnya pergi jauhi cahaya,

juga lainnya, termasuk rasa:
“Kalian merasa ada atau tidak?”
“Kalian merasa asli atau palsu?”
“Kalian merasa bersama atau sendiri?”

“Maaf, Malam.
Aku tak mengerti eksistensi.

Pun selama ini aku selalu diam mendengar tanyamu,
akankah berbeda jika kali ini kucoba jawab?”

Lalu setelah kunyatakan jawabanku:
“Tidak, kami palsu dan terpisah.”,
Sunyi, gelap, dan semua lainnya menghampiri.
Menepuk pundakku, menyanyikan lagu sedih, lalu

menelanku tanpa sisa, menjadikanku tiada.

“Jawabanmu benar, tapi
bukan itu jawaban yang ku mau.
Seharusnya kamu bohong.”

ri(e)

Aku ingin mencintaimu dengan rumit.
Begitu rumit hingga kamu tak perlu mengerti.
Begitu rumit hingga kamu tak perlu peduli.
Begitu rumit hingga takkan kamu temukan yang mampu
mencintaimu sepertiku.

Karena pada rumit, aku sederhana;
Meski padamu, aku rumit.
Begitu rumit hingga aku tak mengerti
sama sekali.

Maka pada waktu, aku mengharap bantu:
Mengurai rasa yang kusut,
dan tanya yang tiada usut.

Dan tentangmu, aku berharap:
Kamu mengerti,

Ri.

SEMU

Aku, kau,
sama: semu.

“Kita angin!”
kata Ingin.

Tapi muara kata
– pita suara kita –
kini tak disini.

.

Kita ingin angin
bawa wabah kata
kembali pergi.

Agar raga
aku, kau,
nyata tanpa tanya.

Karna jika,
hanya jika,
tiada ikat
pada kita,
kita nyata.

Tapi nyatanya,
aku, kau,
sama: semu.