SEMU

Aku, kau,
sama: semu.

“Kita angin!”
kata Ingin.

Tapi muara kata
– pita suara kita –
kini tak disini.

.

Kita ingin angin
bawa wabah kata
kembali pergi.

Agar raga
aku, kau,
nyata tanpa tanya.

Karna jika,
hanya jika,
tiada ikat
pada kita,
kita nyata.

Tapi nyatanya,
aku, kau,
sama: semu.

Sonnet XVII

oleh Pablo Neruda
alihbahasa oleh Wana

Aku tidak mencintaimu sebagai mawar, topaz,
atau panah anyelir yang menyebarkan api.
Aku mencintaimu sebagai benda gelap yang harus dicinta,
dengan rahasia, diantara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu sebagai tumbuhan tak berbunga
yang menyembunyikan serbuk keindahan;
Dan, karena cintamu, suatu aroma istimewa
bangkit dari bumi, bersemayam dalam gelap diri ini.

Aku mencintaimu tanpa tau bagaimana, kapan, atau dari mana.
Aku mencintaimu dengan tulus, tanpa harga diri dan kerumitan;
maka aku mentintaimu karena aku tak tau cara lain

selain ini: dimana tiada kamu, atau aku,
begitu dekat hingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat hingga matamu menutup saat aku tertidur

blokir

lagi-lagi tentang kamu

kalau tau, pasti kamu juga bosan
menatap puisi yang menumpuk
dan kata-kata yang kini busuk, tapi

lagi-lagi tentang kamu

kalau tau, pasti kamu juga kasihan
melihat otakku diblokir bayangmu
dan tercemar oleh eksistensimu, tapi

lagi-lagi tentang kamu

kalau tau, pasti kamu juga ragu
blokir cintamu
dan aku, tapi

lagi-lagi tidak

DEC14

2014

Hai, Lya. Apa kabar? Mungkin kamu bingung apa yang aku kirim untukmu. Di surat ini ada sebuah cerita yang mengubah hidupku.

Sebelum kamu membaca cerita ini, aku mau bilang: Jangan terlalu berharap. Karena harapan seringkali membawa kita kepada kekecewaan. Jangan mengira kamu akan mendapatkan cerita yang menarik agar tak kecewa bila tidak mendapatkannya. Yang paling penting, jangan sampai kekecewaanmu merubahmu menjadi orang yang tidak bisa berharap, seperti aku.

Continue reading “DEC14”