UFO

2016

Unfeel. That’s how the needed feels felt: in the dark.

                Aku tak lagi yakin. Aku melihat pintu-pintu baru yang terbuka. Kemungkinan baru. Harapan baru. Karena itu, aku tak lagi yakin. Mereka membunuhku. (Aku yang sudah lama mati.) Maka ketika aku melihat pintu lain, jelas, aku membayangkan sebuah jalan lain untuk dibunuh. Hingga aku bisa membedakan pintu-pintu. Mana yang pintu benar dan mana yang pintu tidak benar. Aku membukanya satu-persatu sejak dulu. Mencari pencarian. Menghilangkan kehilangan. Membenarkan kebenaran. Menjahati kejahatan. Tapi entah kenapa mereka tak mau aku begitu. Mereka membunuhku di setiap pintu.

Satuan waktu apa yang bisa kugunakan untuk menjelaskan? Tanyaku. Pada kalian. Karena tiap pintu berbeda waktu. Menyentuh. Menggerogoti. Memperdaya. Menjebak. Mungkin aku pernah terjebak selama satu abad? Atau satu milenium? Entahlah. Aku lupa! Tapi waktu yang ada di pintu-pintu itu memang tidak perlu diingat, ‘kan? Iya, ‘kan? Yang penting adalah pintunya! Pintu-pintu masa yang membawa kita (aku) ke jalan-jalan beku, atau gurun bersalju. Pintu-pintu yang disana (sudah kubilang,) aku dibunuh lagi dan lagi.

Unwell Feel Oriented, emerges.

                Aku meninggalkan pintu itu dan mencari jalan lain. Mungkin pada jarak antara dua pintu aku bisa menemukan sebuah jalan? Mungkin juga dibawah pintu. Mungkin ada tangga rahasia? Mungkin di jendela? Eh, tapi jendela itu pintu, ya? Kalau begitu pasti di dalam pintu! Tapi berarti aku harus masuk ke satu pintu dulu kan? Oh! Maksudmu, di dalam pintu itu! Berarti aku harus cari kapak ‘kan? Atau gergaji? Atau gergaji mesin? Sebentar. Kucari dulu. Senandung. Senandung. Aku melihat sebuah pisau. Tapi sepertinya tidak akan cukup kuat. Apa aku cari pintu yang dari gabus dulu, ya? Sepertinya 2008 pintu yang lalu ada, pintu itu. Tapi kalau aku kesana aku harus tidak-jadi-dibunuh 2008 kali? Nanti aku lupa apa yang kucari! Nanti bisa jadi aku malah kembali kemari! Apa ada cara lain? Aku tidak mau bertemu mereka lagi.

Di pintu yang satu ini aku merasa berbeda. Aku entah kenapa menikmatinya. Karena itu aku tak lagi yakin. Aku merasa kalau di dekatku ada gergaji mesin! Aku merasa kalau jalan yang kucari ada di dalam pintu itu. Sayang sekali pisau yang kutemukan ternyata tumpul. Padahal aku ingin menggaruk punggungku. Sepertinya darahku sudah tertumpuk. Sejak di pintu ini memang belum kukeluarkan lagi. Aku tak sempat.

Tapi entah kenapa, di pintu yang satu ini memang ada yang berbeda. Aku bisa membuka pintu ini, tapi aku takut mereka akan membunuhku lagi. Ini pintu yang ke 7022. Apa ada yang spesial dari angka 7022? Aku tak ingat! Kalau pintu ini dibuka, maka aku akan melihat pintu 7023, dan mereka. Apa mereka punya gergaji mesin? Atau setidaknya gergaji, atau kapak? Mungkin aku bisa meminjamnya dari mereka. Atau mungkin mereka akan membunuhku dengan laser? Kalau iya, aku semakin ingin meminjamnya! Aku mulai curiga: jangan-jangan gergaji mesin (yang kurasa dekat tadi) ada di dalam pintu? Duh! Aku harus mencari pisau lain! Atau kuasah saja pisau ini? Kurasa tulangku cukup. Pasti masih ada kalsium yang tersisa. Baru juga seminggu.

Ternyata tulangku kuat. Baru kugosok beberapa kali, pisau tadi patah. Mungkin aku bisa pakai tulangku. Tapi masih belum tajam. Aku harus gunakan tulangku yang lain untuk mengasahnya. Apa gigiku cukup? Lagipula kalau aku cabut gigiku, aku tetap bisa makan pudding buatan temanku. 130 pintu yang lalu ia bilang akan membuatkannya untukku. Yah, karena kita bisa hidup selama 10000 pintu, kurasa tak ada salahnya menunggu. Tapi meski kubilang 10000, aku tak lagi yakin. Entah kenapa, di pintu yang satu ini aku merasa seolah akan berakhir. Kuhitung sampai lima. Aku tidak bisa mencabut gigiku dengan tangan kosong! Hmm. Sayang sekali pisau tumpulnya rusak. Kalau pakai tulangku, aku takut mulutku meledak. Sepertinya tulangku beracun. Korosif. Radioaktif. Ah!

Kalau tulangku memang berbahaya, berarti aku bisa pakai untuk menghancurkan pintu itu ‘kan? Dengan begitu aku bisa mengambil gergaji mesin di dalam pintu. Apa? Alasan? Oh iya! Kita ‘kan mencari gergaji mesin untuk menghancurkan pintu itu! Kalau pintunya sudah hancur, untuk apa? Ah. Ide bagus! Kita bisa menghancurkan pintu selanjutnya. Sebentar. Aku ambil tulangku dulu. Pukul. Pukul. Ada retakan! Pukul lebih keras. Pukul lebih keras. Kini ada lubang! Aku sudah melewati 7022 pintu, tapi entah kenapa aku baru sadar kalau pintu-pintu (dimana dibaliknya mereka selalu membunuhku,) sangat tebal. Seperti sebuah lemari, mungkin? Atau kulkas? Sepertinya lebih mirip dengan kulkas. Melihat gergaji mesin yang beku ini, aku jadi teringat 2870 pintu yang lalu. Yang kubilang tadi, yang ada gurun bersalju. Di pintu itu aku melelehkan semua saljunya supaya ada pintu baru yang terbuka.

Sebentar. Sepertinya saat itu aku tidak dibunuh. Sebentar. Sepertinya di awal aku bilang aku melihat banyak pintu baru yang terbuka? Ah, aku benar-benar pelupa. Kalau begitu aku sudah menemukan penyelesaian kan? Kalau tidak mau dibunuh, cari pintu yang lain. Tapi entah kenapa, di pintu yang satu ini aku merasa ada yang berbeda. Mungkin dengan gergaji mesin ini, aku bisa membunuh mereka? Mereka ‘kan, walaupun seram, pakai tangan kosong. Sudah dari pintu ke 4 aku ingin melihat darah mereka. Apa mereka seperti aku? Darahnya sepertiku? Ah, mungkin aku tidak akan membunuh mereka. Setelah mencongkel mata, memotong tangan, kaki, dan membuang seluruh harta mereka, aku ingin menanyakan sesuatu.

Aku melempar tulangku bagai tombak. Pintu ke 7022 terhempas ratusan meter ke selatan. Mungkin aku salah dengar, tapi ada suara mereka. Sepertinya terbawa oleh pintu itu. Kalau aku cepat, mungkin mereka masih lemah. Aku bisa membunuh mereka. Apalagi api disekitarku melelehkan gergaji mesin tadi. Dan sekarang aku yakin. Aku yakin gergaji itu pasti bisa menyala. Tarik. Tarik. Bisa! Berputar lebih cepat dari dugaanku. Aku kuat menahannya, tapi tidak akan lama. Kalau tulangku yang berbahaya itu masih ada, aku bisa menahannya lebih lama. Aku harus berlari lebih cepat. Mereka pasti terluka parah! Keracunan. Malah mungkin terbakar. Aku harus berlari lebih cepat sebelum kutub yang terbakar ini mencair seluruhnya. Mereka pasti masih terbaring. Atau lebih baik lagi kalau pingsan! Ah! Aku harus berlari lebih cepat sebelum mereka mati. Aku harus bertanya!

Aku sudah menemukan mereka. Mungkin, 10 menit lagi mereka akan mendapatkan kuburannya. Ah. Sekarang aku tak lagi yakin. Tumben mereka tidak membunuhku. Tapi aku baru tau kalau tulangku se-berbahaya-itu. Kalau begitu seharusnya aku memukul mereka dari pintu pertama. Mungkin aku tidak perlu sampai di pintu ini. Mungkin harus begitu! Berarti, aku harus tidak-jadi-mati sebanyak 7022 pintu? Ah! Gila! Bisa-bisa otakku rusak lagi. Aku tidak mau kembali ke pintu 2035! Eh. Apa aku kembali ke pintu ke 7022 saja? Cuma disana dan di 2871 pintu yang lalu tempat aku tidak mati. Cuma disana aku melihat pintu-pintu baru terbuka. Aku harus kesana!

Air hangat mulai menggenangi jalanku. Aku baru setengah jalan menuju tempat-yang-tadinya-ada-pintu-ke-7022. Ugh. Lengket. Seperti tak mengizinkanku pergi. Tapi aku tidak peduli. Meski 2 menit setelah ini aku harus berenang, aku tidak peduli. Aku harus kembali! Aku berlari lalu berlari. Ah! Sial! Tulangku tertinggal bersama mereka. Aku tidak mau kembali. Mungkin aku akan mendapat tulang baru di dalam pintu? Masih ada gergaji mesin di punggungku. Sekarang sudah tidak gatal. Dan mungkin di pintu-yang-terbuka itu ada pisau tajam, atau kapak, atau gergaji? Pokoknya, aku harus kembali. 10 langkah lagi! Sebentar. Pada langkah ke-sembilan, api menghilang. Ke-delapan sampai ke-lima, lelehan air naik lagi. Ke-empat sampai ke-dua, kutub kembali beku. Ke-satu, mereka terbang dan kembali bersama pintu dan tulangku, dengan cepat. Ke-nol, aku terhempas.

Ah, ini cara mereka membunuhku kali ini. Sudah kuduga, di pintu ini ada yang berbeda. Aku melihat dengan jelas di dalam potongan dagingku: jalan yang selama ini kucari. Selama ini yang kucari, bukan ada di balik pintu-pintu. Bukan diatas, dibawah, diantara dua, di dalam, pintu. Semua ada bersamaku sejak awal. Di serat-serat daging dan ototku. Di dalam tulangku. Di mataku. Karena itu aku-yang-sudah-lama-mati tidak mati. Mereka tidak bisa membunuhku! Hanya tulangku yang bisa merusakku. Karena itu sekarang pun aku tidak mati. Dagingku yang tersebar hanya membuatku semakin berbahaya. Biarlah. Untung aku masih bisa melihat pintu-pintu baru yang terbuka. Aku gerakkan tanganku. Untung tadi tulangku terhempas juga. Aku lemparkan tulang-tulang dan daging-dagingku ke dalam pintu-pintu yang terbuka itu. Dan satu tulangku kulempar ke selatan. Lalu aku bertemu dengan mereka. Aku harus.

Sudah tidak panas ya? Disini? Kataku. Aku mencoba ramah. Setelah kutanyakan: mereka adalah bukan apa-apa. Mereka tidak ada, kata mereka. Karena itu aku tidak mati. Tapi aku tidak percaya. Karena mereka sudah membunuhku di (hampir) semua pintu. Sekarang aku sudah hampir mati, jadi mereka tidak mau membunuhku. Tapi mereka mencoba meyakinkanku bahwa mereka tidak ada. Dan aku pun mulai luluh. Tapi aku harus bertanya. Sebelum aku membunuh mereka atau mereka membunuhku: kenapa kalian mengganggu pencarian pencarianku, penghilangan kehilanganku, pembenaran kebenaranku, penjahatan kejahatanku? Padahal aku tidak salah pada kalian? Tapi mereka bersikukuh kalau mereka tidak ada. Pembohong. Kalau mereka tidak ada, mereka tidak akan bisa mengatakan apa-apa. Sudah terlalu lama. Aku lemparkan saja tulangku pada mereka. Nah! Sekarang mereka benar-benar tidak ada!

Aku merasakan tulang-tulang dan daging-dagingku di pintu-pintu baru itu. Aku merasa tidak lengkap. Karena itu aku tak lagi yakin. Aku merasa: aku tidak ada. Ah. Aku mengerti.

Mereka itu tidak ada.

Aku tidak ada

Mereka adalah aku di sisi lain pintu. Sekarang aku adalah mereka di sisi lain pintu.

Ah. Ini sebabnya aku tak lagi yakin. Lagipula, satuan waktu apa yang bisa aku gunakan? Sepertinya aku harus masuk ke dalam pintu. Disana tidak ada mereka. Tapi mereka itu aku ‘kan? Ah, aku ingin segera makan pudding buatan temanku. Sayang sekali tulangku kulempar semua. Aku jadi sulit bergerak. Sudah kuduga di pintu yang satu ini ada yang berbeda. Tapi sekarang aku tak lagi yakin. Apa aku salah waktu masuk ke pintu lain saat 2870 pintu yang lalu? Ugh! Sepertinya di pintu yang ini tulang dan atau dagingku terbakar. Di yang ini beku. Di yang ini sepertinya di padang rumput. Di yang ini gurun. Di yang ini pantai. Di yang ini entah apa. Sayang sekali mataku disini. Aku ingin melihatnya.

Omong-omong, kenapa aku bisa masuk pintu yang pertama ya? Ah! Aku benar-benar pelupa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s