DEC14

2014

Hai, Lya. Apa kabar? Mungkin kamu bingung apa yang aku kirim untukmu. Di surat ini ada sebuah cerita yang mengubah hidupku.

Sebelum kamu membaca cerita ini, aku mau bilang: Jangan terlalu berharap. Karena harapan seringkali membawa kita kepada kekecewaan. Jangan mengira kamu akan mendapatkan cerita yang menarik agar tak kecewa bila tidak mendapatkannya. Yang paling penting, jangan sampai kekecewaanmu merubahmu menjadi orang yang tidak bisa berharap, seperti aku.


Dulu, dahulu sekali, ada seseorang yang aku cintai. Lya namanya; kamu. Hubungan kami berjalan dengan baik. Begitu baiknya hingga tanpa sengaja, aku berharap: Semoga semuanya tetap seperti ini, selamanya. Tapi, waktu merubah segalanya. Seperti dugaanku.

Karena itu, disini aku duduk termenung. Merenung. Mengingatnya.

Aku bertemu denganmu 3 tahun lalu. Di sebuah SMP kecil dengan pohon beringin tua yang besar. Saat pertama kali aku melihatmu, kamu tidak tersenyum. Kamu berjalan hampir sendirian. Sesekali menengok ke kanan, lalu belakang. Membuat rambut ikalmu yang panjang terurai ke samping kiri. Ke arahku yang terpaku.

Mungkin akan jauh lebih indah jika saat pertama kali aku melihatmu tersenyum, ada sinar matahari yang menyinari wajahmu. Tapi sayangnya, nasib tidak membuatnya seperti itu. Aku tidak se-gugus denganmu, bahkan tidak pernah melihatmu waktu MOPD. Lalu saat pembagian kelas, aku tidak sekelas denganmu. Dan hampir satu semester sekolah berjalan, aku belum pernah mengobrol denganmu.

Hampir setiap kali aku melihatmu, aku selalu memandangi wajahmu lamat-lamat. Manis. Terlalu manis hingga aku lupa memandangi yang lainnya. Terlalu membuatku cinta, hingga lupa memikirkan keburukannya. Ah, aku lemah. Tapi kurasa wajar. Aku telah jatuh cinta.

Lya, ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku ungkapkan perasaan ini dan menantang banyak pria lain yang mengincarmu? Atau kupendam hingga bisa melepaskanmu, melupakan senyummu? Sial, kamu takkan pernah menjadi milikku!

Tapi harapan datang.

Di dalam ruangan dimana cahaya matahari tidak menyentuh secara langsung, aku berkenalan denganmu. Ruangan yang hampir kosong itu benar-benar terasa kosong. Hanya ada kamu dan aku. Ah, aku memang lemah. Pikiranku kosong hanya dengan berjabat tangan denganmu. Jantungku berdebar kencang hanya karena melihat senyummu. Mendengar suaramu menyebutkan namamu yang sudah lama kutau. Tapi itu wajar. Karena aku sedang jatuh cinta.

Kau dan aku menjadi anggota baru ekskul mading yang baru aktif. Yah, karena ini memerlukan komunikasi, kita jadi sering bertemu. Kita sering mengobrol, dan akhirnya menjadi dekat.

Lya, kalau kau merasa kalau aku sangat rajin di ekskul itu, ketahuilah: aku sedang mencari perhatianmu. Aku ingin terlihat keren di depanmu. Aku mau kamu menyukaiku. Tapi aku berpikir kalau kamu tidak menyukaiku, aku tidak masalah. Karena sungguh, bersamamu saja aku sudah bahagia. Semua hal-hal merepotkan mengenai mading tidak lagi terasa. Maka aku memikirkan sebuah tweet:

“Cara membuat semua menjadi lebih mudah: Bersamamu.”

Kehidupan kita yang akrab terus berlanjut. Ah, mungkin aku yang membuatnya tetap berlanjut. Ketahuilah, Lya: aku yang pintar bukanlah aku yang sebenarnya. Aku yang kau tanyakan tentang pelajaran adalah aku yang mencoba terlihat keren. Aku sendiri malu dengan nilaiku dulu. Kamu merubahku, Lya. Atau mungkin, aku berubah karenamu.

Lya, sering kali kebahagiaan membutakan kita dari kenyataan. Aku harus tetap mengingatkan diriku kalau kita takkan bersatu. Aku hanya seorang siswa biasa. Tidak pintar dan tidak kaya. Aku tau posisiku, dan memang jauh darimu. Aku tidak pantas untuk perempuan sepertimu, Lya. Kamu seharusnya bersama orang yang jauh lebih baik dariku. Yang pantas untukmu. Maka, kumohon, jangan pernah menulis surat seperti ini untukku lagi. Aku tidak mau berharap:

“Tanpa tanda, semua berakhir ketika bermula.”

Adanya apa? Seadanya cinta. Aku terburu-buru. Perlu tidak waktu ada? Sekarang untuk cukupkan itu, tulus dengan cinta aku nanti sampai jalan hidupku yakin. Tidak? Bahkan aku seribu-tahun juga tidak. Selamanya tidak. Tapi kamu cinta aku.

Lya, aku akui kamu memang pandai menyusun teka-teki. Pada awalnya, aku panik. Aku kira ini tentang kamu menyadari perasaanku, dan menolaknya. Tapi kurasa lebih baik begitu, daripada apa yang akhirnya kumengerti.

“Tanpa tanda, semua berakhir ketika bermula.” adalah cluenya. Kalau itu berakhir ketika bermula, maka itu bermula ketika berakhir. Jadi, kamu memintaku membacanya dari akhir ke awal, tanpa menghiraukan tanda baca. Dalam kasus ini, kau ingin aku membacanya kata-per-kata.

Sungguh, Lya. Aku sangat senang membacanya. Sungguh! Tapi apa kau pikir itu tidak terlalu dini? Aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu akan membalas perasaanku. Apalagi membuat ini. Aku lebih memperkirakan kalau aku akan hidup dalam sebuah zona pertemanan, selamanya. Karena kurasa lebih pantas begitu. Aku tidak pantas untukmu, Lya. Belum pantas.

Tapi seperti yang kubilang, kebahagiaan membuat seseorang buta. Aku lupa: aku tidak boleh mengharapkan sesuatu yang takkan terjadi.

Haah.. Aku tidak suka menulis bagian ini.

Aku bilang kepadamu kalau aku mengerti isi pesanmu. Aku memujimu. Mengatakan kalau surat ini sangat bagus. Aku meminta keterangan lebih lanjut darimu. Lalu kamu jelaskan padaku, kalau itu untuk cerpen-mu.

Kamu cerdas, Lya. Aku paham kamu ingin mengetes apakah orang-orang bisa mengerti maksud dari pesan itu. Juga mengerti kalau kamu ingin menanyakan pendapat, serta reaksi yang dialami orang yang menerima surat itu. Tapi kamu tidak mengerti, Lya. Harapan. Kamu menghancurkan harapan-harapan yang telah kamu berikan padaku. Kamu tumpuk hingga membentuk sesuatu, lalu kamu hancurkan.

Tapi tidak apa, Lya. Aku tau kamu tidak sengaja. Ketika seseorang mencintai sesuatu, mereka cenderung lebih pemaaf.

Kita masih berada di zona pertemanan yang sama. Aku sudah mengerti, Lya. Aku sangat mengerti: Inilah jarak terjauh yang bisa kita tempuh. Sering aku mencoba berpikir kalau sebatas teman itu cukup. Sering pula aku gagal.

Lama kita berada di zona ini. Menjadi sebuah paradoks: “Terikat tanpa ikatan. Jauh meskipun dekat.” Jarak, Lya. Aku selalu merasa ada jarak diantara kita. Mungkin ini pengaruh status sosial, tapi aku selalu merasa kalau aku takkan bisa meraihmu. Sedekat apapun kita. Dan Lya, ini sangat menggangguku bahwa meski aku tidak tau apa yang kamu rasakan, aku takut menanyakannya.

Lya, hampir dua setengah tahun kita berteman, dan hanya berteman. Aku mulai lelah dengan semua ketidakjelasan ini. Kamu terlalu baik, Lya. Aku tau kamu menganggapku sebagai teman baik, dan tidak ingin merusaknya. Tapi, Lya. Kamu terlalu banyak memberi harapan. Dan aku juga salah karena berharap, lagi. Aku ingin mengakhiri ketidakjelasan ini. Meski sebenarnya sudah jelas. Aku tau apa yang akan terjadi. Tapi, pura-pura adalah cara termudah untuk segalanya.

Kamu menolakku, Lya. Ternyata, dua setengah tahun PDKT dan menjadi sahabat terbaikmu, tidaklah cukup untuk menjadi orang yang kamu cintai. Lalu, tanpa kusadari, aku menjauh darimu. Merusak hubungan kita. Meski saat itu, aku masih mencintaimu.

Tanpamu, aku bagaikan kehilangan segalanya. Menimbulkan sebuah paradoks lainnya: “Aku tidak bisa hidup tanpamu, juga tidak bisa hidup denganmu.” Aku rusak, Lya. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Di zaman modern seperti ini, patah hati masih belum ada obatnya.

Lya, aku berubah karenamu. Terima kasih, sudah membuatku begini. Tidak bisa berharap. Bahkan tidak bisa merasakan apapun lagi. Aku tidak lagi merasakan puas karena apa yang kuharapkan tercapai, juga tidak akan kecewa bila tidak. Aku tidak akan seperti dulu lagi. Aku seperti mati rasa.

Tapi jujur, Lya. Ini lebih baik. Dan jujur, aku tidak menyesal mencintaimu. Kalau ada yang kusesali, itu adalah tidak bisa menjadi orang yang kamu cintai.

Sebagai penutup, aku mau bilang: Semoga kita bahagia dengan cara kita masing-masing. Wish us all the best. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s