believeiled

2016

SURAT CINTA TERSEMBUNYI: NO. 1

Seluruh dunia ini diatur sedemikian rupa agar kita meragu. Meragu agar salah. Salah agar takut. Takut agar berubah. Berubah agar kuat. Kuat agar tak perlu meragu. Tapi semuanya selalu kembali ke pernyataan pertama. Dunia pasti akan membuat kita ragu, se-benar apapun yang kita lakukan.

“Karena itu, lebih baik kita tidak ragu untuk meragu ‘kan?” pikirku suatu hari. Karena selalu ada kemungkinan kalau kita salah, kan? Satu-satunya yang pasti adalah ketiadaan kepastian di dunia ini.

Tapi lalu kamu datang. Membuatku ragu untuk meragu. Yakin, kalau memang seharusnya denganmu.

Hanya ada sebuah papan catur diatas meja itu: meja yang diterangi oleh satu-satunya cahaya di ruang itu. Papan catur itu tidak berdebu. Tidak juga bidak-bidaknya yang sudah lama menunggu. Sudah hampir jelas bahwa Juliette yang hampir setiap sore datang, selalu mengelapnya.

Siang ini, Arsa yang tau bahwa ruangan itu kosong, masuk dan mengintip apa yang ada di bawah papan catur itu, lalu menyelipkan sebuah lipatan kertas. Dan dengan cepat ia pun pergi. Meninggalkan papan catur yang senang: bisa melihatnya lagi setelah sekian lama.

Juliette, yang datang lebih sore, tidak bisa menahan rasa kecewanya ketika melihat kertas milik Arsa di bawah papan catur itu. Ia sungguh berharap kalau kertas miliknya akan ada disana lebih dulu. Tapi sepertinya kali ini ia tidak terlalu mempermasalahkan soal itu. Ia senang. Akhirnya, malam ini ia bisa kembali bertemu dengan Arsa: melampiaskan semua kekesalannya selama ini.

Papan catur itu ditinggalkan lagi. Kini oleh Juliette yang mengerti kalau percuma menanti. Sebab, permainan baru akan dimulai jam 7 malam nanti: 3 jam 25 menit lagi.

Derit suara pintu terbuka, seolah memberitahukan kepada seluruh udara di ruang itu: “mereka telah datang! Ubah suasana menjadi mencekam!”. Dan mereka patuh. Seketika, semua sunyi. Angin pun seolah tak ingin mengganggu mereka. Seolah tak ada getaran yang berani mendistorsi gerakan mereka yang tanpa suara; bahkan ketika bangku kayu itu diangkat mundur sejauh 15 centimeter.

“Terima kasih.” Kata Juliette

Arsa menerjemahkan kata sama-sama menjadi sebuah senyuman; karena ia tau Juliette akan mengerti. Lalu untuknya, ia menggunakan jarak 20 centimeter.

Itu adalah posisi paling nyaman bagi mereka.

“Mau main aturan berapa detik?” tanya Arsa.

“Aku tidak ingin berlama-lama. Bagaimana kalau 15 detik saja?”

“Oke.” Arsa setuju. “Soal stalemate, mau berapa langkah? 50?”

“50 moves, rule.

As punny as ever.” Arsa tersenyum.

“Siapa yang jalan pertama?” Kali ini Juliette bertanya.

“Sepertinya, kali ini bisa dengan suit, ly.” Arsa biasa memanggilnya July. Karena menurutnya, pemanggilan dengan jul atau yet itu tidak indah. “Yang satu kali menang jalan pertama.” Tambahnya

Arsa bilang kali ini, karena biasanya, mereka menggunakan cara lain. Karena entah kenapa, mereka selalu seri jika suit. Selalu. Tapi, seperti dugaan Arsa, kali ini berbeda. Pada suit yang kedua, setelah yang pertama seri, Arsa kalah.

“1, 2, 3!” Ujar Arsa. Kalau Juliette biasanya menghitungnya dari 3 ke 1. Yah, sebenarnya tidak akan terlalu berbeda. Karena, menurut aturan yang mereka buat, mereka akan mulai menyalakan timernya saat angka ke-3 selesai disebutkan.

Permainan catur mereka memiliki beberapa aturan tambahan:

Pertama, giliran mereka melangkah dibatasi hingga waktu yang telah ditentukan. Yang mana dalam permainan kali ini, harus dilakukan dalam 15 detik, dan baru boleh melangkah setelah 2/3 dari waktu yang ditentukan sudah lewat. Dalam permainan kali ini, setelah 10 detik. Apabila melewati waktu yang ditentukan, akan dianggap kalah.

Kedua, mereka harus saling mengobrol. Yang mendapat giliran pertama akan menanyakan pertanyaan terlebih dahulu. Lalu yang mendapat giliran kedua, harus menjawab pertanyaan sebelum waktu yang ditentukan. Apabila pada waktu yang ditentukan belum mengatakan apapun, akan dianggap kalah.

Timer pun dimulai. Juliette pun mulai mengajak Arsa mengobrol.

“Yang mengirim Surat Cinta itu kamu ‘kan?”

“Nggak basa-basi dulu nih?”

“Gak usah. Aku lagi nggak mau berlama-lama.”

“Hehe, iya. Itu aku yang buat.” Kata Arsa. “Bagaimana menurut kamu?”

“Yaa kreatif, sih. Pesannya tersembunyi begitu. Tapi sebenarnya aku akan jauh lebih suka kalau pesannya tidak dikirim ke polisi. Dan, tidak perlu dibarengi pesan dari pembunuh berantai.”

Tak lama setelah detik ke-10, Juliette melangkahkan pion hitamnya untuk maju. Lalu me-reset timer.

“Sebenarnya nggak terlalu seperti pembunuh, sih. Aku ‘kan hanya mengatakan kalau di tempat itu terjadi pembunuhan.”

Lalu tanpa bicara, Juliette mengambil sebuah gulungan surat dari tasnya. Sebuah gulungan kertas agak tebal dengan pita merah yang diikat model tali sepatu. Ia pun menarik pita merah itu untuk memperlihatkan isi suratnya. “Terjadi pembunuhan di Perumahan Anggrek Blok A6 No. 12. Tolong pecahkan.“ Juliette mengutip tulisan yang ada di surat itu. “Sekiranya semua orang yang baca itu akan berpikir kalau itu dari pembunuh berantai. Apalagi kalau surat seperti itu dikirim setiap minggu.” Katanya lagi.

“Yah, memang dimaksudkan untuk begitu, sih.” Kata Arsa. “Lalu, bagaimana reaksi para polisi? Bagaimana kondisi kasusnya sekarang?” tanya Arsa.

“Penyelidikan masih terus berlanjut. Semuanya bingung. Seperti harapanmu.” Kata Juliette. “Kalau aku tidak mengenalmu, mungkin selamanya kasus ini takkan pernah kupecahkan.” Katanya lagi. “Kenapa kamu melakukan ini, Sa? Iseng?” kali ini Juliette bertanya.

“Bisa jadi.” Kata Arsa sambil menggerakkan kuda miliknya. “Kalau aku beritahu alasannya, memangnya kamu akan percaya?” tanya Arsa. Tersenyum. Dan mulai sekarang, aku tidak akan mengatakan langkah yang mereka lakukan.

“Bukannya kita sudah janji untuk tidak berbohong?” Tanya Juliette. Retoris. ”Aku ingin percaya pada janji itu.” Katanya, dengan sebuah senyuman yang sedih. Arsa yang menyadari ini langsung menganggap kalau Juliette tidak mempercayainya. Yah, itu salahnya, sih.

“Aku cuma mau tau: Kamu percaya padaku atau tidak?” kata Arsa. “Aku benar-benar ingin bersamamu, tapi bagaimana aku bisa tau kalau memang harus denganmu? Karena jodoh itu tak ada, July. Yang ada hanya mereka yang siap untuk berpura-pura! Perlu rasa percaya dan komitmen untuk terus bersama. Aku harus mengujimu.”

“Dengan cara ini?”

“Yah, ini cara paling efektif ‘kan? Untuk menguji sesuatu, kita harus menempatkannya di kondisi ekstrim.”

“Mungkin. Tapi aku tidak suka cara ini.” Kata Juliette. “Kamu benar-benar tidaj memikirkan perasaanku, Sa. Kenapa sih, kamu begitu meremehkanku?” Juliette terlihat sedih. “Tadi katamu kamu ingin tau kalau aku percaya padamu atau tidak, ‘kan?” lalu sedikit sunyi. “Jawabannya, aku tidak percaya padamu. Aku masih berpikir kalau kamu membunuh orang-orang itu.” Katanya lagi.

“Kalau begitu kenapa tidak langsung kamu laporkan ke polisi saja?” tanya Arsa. “Kamu takut ditangkap?” ia tersenyum. “Yah, yang memberitahukanku cara membunuh mereka ‘kan, kamu.” Kata Arsa sambil memainkan handphonenya. Membuka aplikasi rekaman lalu mencari sebuah rekaman dari 4 bulan yang lalu. Setelah ia menekan tombol play, terdengar mereka berdialog:

“Ly, kamu ‘kan seorang detektif hebat. Berarti kamu tahu ‘kan, cara membunuh orang yang aman? Kira-kira bagaimana, ya? Cara membunuh yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja, kepada siapa saja. Tapi tidak akan ketahuan! Setidaknya, apabila ketahuan, tidak akan bisa diketahui caranya!” Arsa mengawali dialog itu.

“Hmm. Kalau memang mau tidak ketahuan, sih, lebih baik kamu tidak usah membunuh, Sa. Cari saja orang yang kebetulan meninggal karena serangan jantung. Lalu kamu bilang ke polisi kalau itu adalah pembunuhan. Selesai, deh. Pembunuhan tanpa bukti.” Juliette menjawab. “Memangnya buat apa?” tanya Juliette.

Ada seseorang yang mau kubunuh.” Kata Arsa sambil tersenyum. Senyum yang sama yang ia gunakan saat bercanda. Saat itu nada yang digunakan pun ceria. Wajar saja kalau Juliette menganggapnya bercanda.

Kalau mau, aku tau sebuah racun yang menyebabkan serangan jantung.” Kata Juliette. “Organik. Ketika masuk ke tubuh tidak akan terdeteksi. Sudah lama juga aku meneliti ini.”

Lalu Arsa menekan tombol stop. Ia masih tersenyum.

“Menyebalkan. Kamu benar-benar seperti stalker, deh. Semua selalu ada rekamannya.” Kata Juliette. “Padahal tadinya aku sudah percaya padamu. Tapi sekarang aku ragu lagi. Kamu jahat, sih.” Katanya lagi. “Yah, kamu sudah pernah bilang, sih.” Tambahnya.

“Jadi aku tidak salah ‘kan? Aku jujur.” Kata Arsa, dengan senyuman yang rutin ia gunakan. Juliette tetap diam. Ia tak bisa menyangkal. “Eh, coba ceritakan lebih lanjut, deh, soal Polisi. Soal pemberitaannya terutama.” Pinta Arsa.

“Kamu mau tau yang kamu pikir terjadi atau tidak ‘kan?” tebak Juliette. Ini kebiasaan mereka: mengira-ngira masa depan. “Polisi tidak berani mengatakan kalau ini adalah pembunuhan. Karena penyebab kematiannya memang serangan jantung. Waktu kasus pertama ‘kan si Jerry sempat ke rumah korban, tapi kesannya benar-benar merusak suasana. Yaa bayangkan saja kalau ada kerabatmu yang meninggal karena serangan jantung. Ketika kamu sedang mengaji, tiba-tiba ada polisi bilang kalau ini adalah pembunuhan.” Jelas Juliette. “Jadi sesuai harapanmu, ini kasus intern polisi. Walaupun korbannya sudah banyak, sih.” Katanya lagi.

“Sok tahu, nih. Belum tentu aku sudah merencanakan itu.” Kata Arsa. “Tapi kalau begitu kamu sadar ‘kan? Kalau aku tidak terlalu ingin mengganggumu? Aku cuma mau tau kalau kamu percaya padaku atau tidak.” Katanya lagi.

“Tapi percaya padamu bukan kemungkinan terbaik. Kita tidak bisa membuktikan kamu membunuh mereka atau tidak. Dan aku tidak tau kalau kamu sudah membunuh orang selain mereka atau tidak. Dan ‘kalau’ ternyata kamu benar-benar seorang pembunuh dan aku percaya padamu, sama saja aku melindungi seorang pembunuh berantai. Tidak mungkin aku melakukan itu.” Kata Juliette. “Aku tidak bisa percaya padamu.” Katanya lagi.

“Tidak bisa atau tidak mau?” tanya Arsa. “Dan sepertinya kamu lupa menambahkan, bahwa satu-satunya cara untuk menangkapku adalah dengan menyatakan: bahwa kamulah yang memberitahuku cara melakukan ini. Dan, bahwa kamu diam-diam membuat racun berbahaya.” Sebuah pernyataan.

“Jahat.” Kata Juliette. “Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau kamu sejahat ini?”

“Kita sudah berjanji untuk takkan bohong. Bukankah itu cukup?” tanya Arsa.

“Janji itu bisa diingkari.” Balas Juliette. “Dan memang biasa diingkari, sih.”

“Apa aku pernah ingkar janji? Bohong saja aku tak pernah. Kamunya saja yang tidak percaya.” Kata Arsa.

“Karena kamu orangnya tidak jelas. Siapa yang akan menganggapmu serius kalau kamu bilang hal seperti ‘Ada seseorang yang mau kubunuh’?” kata Juliette. “Eh, kalau kamu bilang kamu tidak pernah bohong, berarti kamu benar-benar membunuh, dong?” katanya lagi. Dengan nada santai ber-emosi.

“Eits, aku bilangnya ‘ada seseorang yang mau kubunuh’. Kamu juga pasti ada ‘kan? Aku sama sekali tidak bilang aku akan membunuhnya.” Kata Arsa.

“Ada. Kamu, kadang-kadang.” Kata Juliette.

“Aih. Se-benci itukah?” tanya Arsa.

“Aku tidak benci. Hanya kesal. Nyatanya, aku cinta padamu. Hanya saja saat ini aku ingin kamu mati.” Kata Juliette.

“Serius? Apa kamu benar-benar mau hidup tanpaku?” tanya Arsa. “Bukannya hidup akan jadi membosankan? Aku sendiri tidak mau hidup tanpamu. Yah, karena cuma kamu yang bisa mengerti apa yang aku pikirkan.” Katanya lagi.

“Yah, keberadaanmu biasanya memang menyenangkan. Tapi tidak sekarang. Aku benar-benar ingin kamu mati. Sederhana, ada kemungkinan kalau kamu adalah pembunuh. Kalaupun tidak, kamu sudah mengganggu kepolisian dengan mengirimkan surat seperti itu.” Kata Juliette.

“Padahal katanya kamu cinta padaku. Tapi kamu mau membunuhku. Agak lucu, ya?” Arsa tersenyum. “Yasudah kita selesaikan saja. Sekarang kita pikirkan jalan keluarnya. Aku hanya akan memberikan satu solusi, dan kamu boleh menolak solusi itu. Aku janji akan melakukan apapun keputusanmu.” Katanya lagi. Lalu setelah jeda, berkata lagi “Sekarang, aku bersumpah kalau aku tidak membunuh orang-orang itu. Aku hanya menulis surat setelah tau kalau mereka meninggal karena serangan jantung. Dan sungguh. Aku berupaya sekeras mungkin agar apa yang kulakukan tidak menimbulkan terlalu banyak masalah. Setidaknya, hanya padamu. Sekarang, solusi dariku adalah: maafkan aku. Dengan begitu, aku akan percaya padamu. Dan aku janji akan melakukan apa yang kau inginkan. Dan aku akan meninggalkan apa yang selama ini kuyakini. Begitu.” Arsa menjelaskan dengan panjang tentang apa yang benar-benar ia inginkan.

Dengan ini, cerita ini tiba ke fase penyelesaian masalah. Permainan catur pun sudah selesai. Arsa kalah.

“Aku kesal padamu. Harusnya kamu mengerti seberapa kesalnya aku karena apa yang kamu lakukan.”

“Maaf.” Arsa terlihat menyesal.

“Aku ingin kamu mati.”

“Serius?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku akan bunuh diri, deh.” Arsa bersiap mengambil suntikan di tasnya.

“Jangan. Jangan dulu.”

“Oke.”

“Cuma kamu yang bisa pahami aku.”

“Sama. Yah, kita mirip, sih.”

“Jangan dibalas. Aku sedang bicara.”

Arsa diam.

“Kalau aku memaafkanmu, kamu akan berubah menjadi apa yang aku inginkan, ya? Tapi, aku tidak mau berubah. Apa kamu tetap akan menerimaku?”

Arsa diam.

“Sekarang boleh jawab.”

“Kalau kamu mau memaafkanku, berarti kamu sudah berubah.”

“Aku kesal padamu.”

“Maaf.”

“Aku tidak bisa memaafkanmu.”

“Tapi mau?”

Juliette diam.

“Masih bingung di bagian mana? Soal penyelesaian kasus? Dari tadi kamu selalu memikirkan kemungkinan ‘kalau’ ternyata aku benar-benar pembunuh. Bagaimana kalau kita ubah pola pikir itu. Aku tidak membunuh sama sekali. Aku hanya menulis surat setelah mereka meninggal karena serangan jantung. Lalu penyelesaiannya? Kamu bilang kalau surat-surat itu hanyalah perbuatan iseng seseorang. Polisi pasti percaya padamu.” Arsa menjelaskan dengan serius.

“Bukan soal itu!” kata Juliette.

Lalu sunyi.

“Aku tidak tau apa-apa tentangmu. Terlalu banyak rahasia! Aku tidak tau apa pekerjaanmu. Kenapa, sih, kamu selalu pergi? Kenapa kita hanya bisa bertemu beberapa bulan sekali? Aku sulit untuk tidak ragu!” katanya lagi.

“Aku tidak mau kamu terlibat.”

“Berarti kamu juga tidak percaya padaku!”

Lalu sunyi.

“Kenapa tidak kita hadapi bersama saja, Sa?”

“Aku belum percaya padamu.”

Juliette baru mengerti.

“Jadi, kalau aku memaafkanmu kali ini, kamu baru akan menjelaskan semuanya? Jadi ini tes untuk menjadi partnermu? Selama ini kamu meragukanku?”

“Maaf.”

“Harusnya aku yang minta maaf, Sa.” Kata Juliette. “Aku tak mau hidup tanpamu. Sungguh. Tapi, aku harus tetap pada pendirianku. Semua hal yang salah harus diadili. Semua hal harus tetap pasti. Semua harus tetap sebagaimana mestinya.” Katanya lagi. “Ada 50% kemungkinan kalau kamu bersalah. Kamu berbahaya.” Katanya lagi. “Soal solusimu, aku tidak mau menutup-nutupi apa-apa dari polisi. Itu tidak sesuai dengan harga diri-ku.” Katanya lagi. “Dan, maaf. Aku tidak mau mengambil resiko untuk dianggap penjahat. Jadi aku tidak mau menangkapmu. Karena kalau kamu tertangkap, kamu harus memberitahukan kalau aku yang membuat racun itu. Mungkin kesannya sombong, tapi kalau tidak ada aku, kejahatan akan jauh bertambah.” Katanya lagi.

“Jadi bagaimana penyelesaian yang kamu inginkan?” tanya Arsa.

“Aku ingin kamu pergi. Kemanapun di seluruh negeri ini. Lagipula kamu memang suka begitu ‘kan?” Kali ini Juliette yang tersenyum. “Jangan coba bertemu denganku. Biar aku yang mencarimu lagi. Buatlah kode-kode seperti saat aku pertama mengenalmu. Aku akan memecahkan kode itu lagi. Kita akan bisa bertemu lagi. Dan kalau aku bisa bertemu denganmu, aku tidak akan mau menangkapmu.” Kata Juliette. “Setelah ini, aku akan mengatakan kepada polisi kalau kamulah pengirim ‘Surat Cinta’ itu. Dengan begitu, aku sudah melakukan sebagaimana seharusnya.” Kata Juliette. “Karena itu, jangan tertangkap. Menghilanglah seperti biasa. Tetap menjadi orang yang tidak ada. Menjadi ‘inexistant’.” Tambah Juliette.

“Padahal aku kira, kalau kamu tidak memintaku untuk mati, aku harus menjadi orang normal. Aku sudah mulai berpikir kalau aku tidak harus menjadi inexistant. Aku sudah mempersiapkan diri untuk tinggal dan bertemu setiap hari, lho!” Arsa tersenyum kembali. “Tapi oke, deh. Aku sudah janji untuk mengikuti apapun yang kamu minta. Setelah ini, aku takkan kembali lagi kepadamu. Kamulah yang harus memecahkan kode-ku kalau ingin kita bertemu lagi.” Arsa tampak semangat kali ini.

“Jadikan! Walaupun sebenarnya kita bisa menjadi normal kalau kamu tidak mengirim surat cinta itu, sih.” Kata Juliette.

“Maaf.” Arsa menyesal

“Tapi, terima kasih, deh, untuk surat cintanya. Aku suka kata-katanya. Walaupun aku masih akan lebih suka kalau tidak usah dibarengi surat dari pembunuh berantai. Dan dengan begini, pertemuan kita akan jauh lebih seru! Lagipula tidak akan beda jauh ‘kan? Memang biasanya kita bertemu beberapa bulan sekali.” Arsa dan Juliette kini tersenyum.

“Yasudah. Fix, ya? Kalau begitu kita tutup saja permainan malam ini.” Kata Arsa dengan senyuman khas-nya.

“Kertasnya? Prediksi aku, sih, benar.” Juliette tersenyum.

“Sama.” Arsa mengambil kertas di bawah papan catur itu. Diatasnya tergambar posisi bidak catur mereka saat Juliette menang.

“Kamu sengaja kalah?” Tanya Juliette.

“Tidak, kok.” Arsa tersenyum. “Yasudah, untuk mengakhiri permainan malam ini, ayo kita baca janji kita lagi.” Katanya.

Udara sadar kalau suasana harus dijadikan ceria. Dengan penyelesaian yang tidak jelas karena, yah, pada dasarnya mereka memang tidak normal.

Lalu pada akhirnya, seperti mantra, mereka membaca janji mereka.

believeiled

Pembukaan:

kami, inexistants, berjanji:

tidak akan berbohong,

dan akan saling percaya,

dari awal, hingga awal yang lain.

“Besok lari, yuk? Sebelum aku lari?”

“Yuk.”

Lalu keesokan harinya, mereka mengobrol tentang banyak hal. Tentang Arsa, lalu Juliette. Tentang masa lalu, lalu masa depan. Mereka berjalan-jalan ke berbagai tempat. Lalu berhenti di sebuah toko es krim dan mengobrol.

“Sa, selama ini kamu kerjanya apa?” tanya Juliette kala itu.

“Memberantas kejahatan dari dalam.” Jawab Arsa.

“Maksudnya?” Juliette bingung.

“Menjadi orang jahat. Jahat pada penjahat.” Kata Arsa.

“Aku ubah pertanyaannya. Selama pergi apa yang kamu lakukan?” tanya Juliette.

“Main handphone. Seringnya, sih, nonton video.” Kata Arsa sambil senyum.

“Video apa?” tanya Juliette. Karena ia tau Arsa jujur.

“Oiya, kamu sering ‘kan tanya, kenapa aku bisa tau soal berbagai hal? Ini rahasianya.” Kata Arsa sambil menunjukkan kamera kecil. “Aku pasang ini di tempat yang kurasa perlu diawasi. Kebanyakan, sih, di tempat yang sering didatangi penjahat. Tapi aku juga pasang satu di basecamp kita, sih. Makanya aku tau kalau kamu hampir setiap hari datang.” Arsa meledek.

“Sebal, ah.” Kata Juliette. “Jadi kamu pergi-pergian terus untuk memasang kamera baru, apa bagaimana?” tebak Juliette.

“Itu salah satunya, tapi yang paling utama, sih, aku memberikan kode-kode dan informasi kepada polisi agar penjahat itu bisa tertangkap.” Jelas Arsa.

“Oh, kalau kamu beritahu langsung nanti akan ditanya-tanya ya?”

“Yap.” Kata Arsa. “Pekerjaanku lumayan penting, ‘kan?”

“Ya.” Juliette yang merupakan seorang detektif sangat merasakannya. “Nyaman rasanya kalau tau ada petunjuk. Jadi kamu tau tentang lokasi orang yang meninggal karena serangan jantung dari sini ya?”

“Yap. Menurutku, masalah utama kita sebenarnya adalah bahwa kita tidak tau kalau ada kesalahan. Karena itu, sebisa mungkin aku ingin tau apa yang terjadi.” Kata Arsa.

“Kameranya tersambung ke internet? Servernya dari mana? Pasti mahal, kan? Untuk file sebesar itu.” Tanya Juliette.

“Buat sendiri, lah! Uangnya pinta saja ke para penjahat. Sebagai jaminan keamanan.” Kata Arsa.

“Jahat.” Juliette tersenyum.

“Memang. Oiya, besok kamu akan melaporkanku ya?” tanya Arsa.

“Ya.” Jawab Juliette. “Siap, ‘kan?”

“Always.”

“Kali ini jangan sengaja mengalah.”

Juliette menerima sebuah surat dalam sebuah kertas tebal. Dari luar, tidak ada yang aneh dari kertas itu: kertas tebal yang melengkung karena digulung. Tapi setelah Juliette menggunting satu sisi di pinggir kertas itu, kertas itu menjadi seperti sebuah amplop. Dua buah kertas yang ditumpuk. Di dalamnya, ada surat cinta dari Arsa.

SURAT CINTA TERSEMBUNYI: NO. 16

Ternyata aku memang harus meragu. Terimakasih telah meyakinkanku. Aku harap, kita akan sesuai dengan believeiled (bukan beliefailed). Happy first anniversary, July! Aku membuat video untukmu. Cepat temui aku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s