First Post

cropped-zetvies-logo.png
Zetvies Logo 2017

Selamat datang di Zetvies!
Disini, panggil saja aku Zetvies.

Pertama-tama, aku minta maaf untuk keberadaan blog ini. Karena jujur, beberapa bagian dari diriku masih merasa kalau blog ini tidak perlu ada (haha).

Karena sudah terlanjur ada, izinkan aku sedikit menjelaskan.

Sederhananya, blog ini akan dibagi menjadi 3 rubrik:

  • Wana, yang berisikan konten seni
  • Arief, yang berisikan tulisan keilmiahan
  • Arsa, yang berisikan konten tak berkategori

Seperti biasa, aku harus mengingatkan kalian untuk tidak mengharapkan konten yang berkualitas. Yah, karena semua yang di post disini hanya kumpulan abstrak yang, secara abstrak, terpikirkan olehku.

Jadi, selamat menikmati informasi ini~

Advertisements

Gadis Fiksi

Seorang pria yang menghina fakta
tak berhak membenci dan berduka
saat gadis fiksi miliknya
memilih tuk masuk ke dunia nyata.

Dunia nyata
– mimpi terburuknya –
menjadi nyata

dengan runtuhnya mimpi;
dunianya.

Maka dalam luka dan duka,
ia bertanya:

“Akankah selamanya aku

menatap asap,
diterangi gelap,

diramaikan sunyi,
ditemani sepi,

dihangatkan dingin,
dikejar ingin,

dihibur duka,
dilengkapi hampa?”

“Bodoh.
Kamu tak perlu begitu”
kata si gadis fiksi.

“Kamu pikir, untuk apa aku memilih masuk ke dunia nyata ini?”

“Untuk menipuku lagi?”

Gadis itu kini tersenyum;
dan karenanya, si pria juga.

Meski dunia nyata makin nyata,
dan mimpi makin runtuh.

“Ayo kita pergi.”
kata si gadis fiksi.

“Aku tau kamu tau,
duniamu semu
dan tanpa tamu.

Haruskah tetap menetap?”

“Maaf,
Aku tidak tau dunia lain
selain di sini.

Duniaku semu, tapi
ini dunia yang kupilih dulu.

Jadi biarlah aku disini;
terjebak dalam labirin
yang kubuat sendiri.”

Lalu mereka hidup bahagia selamanya.

Meski tak bersama.

Elegi #1 : Eksistensi

Maaf, teman.
Aku tak mengerti eksistensi.

Karena meski aku merasa,
aku ada hanya terkadang, dan
kala itu pun aku meradang.

Apa karena kujadikan sekat sahabat
-juga sunyi, gelap, dan semua lainnya-
atau apa (hanya) karena aku salah mengerti?

Malam sering bertanya padaku, tahukah?
Tentang keramaian yang kesepian,
tentang yang berbicara dalam diam,
tentang alasan kita untuk tetap buta,
setelah ia bawa gelapnya pergi jauhi cahaya,

juga lainnya, termasuk rasa:
“Kalian merasa ada atau tidak?”
“Kalian merasa asli atau palsu?”
“Kalian merasa bersama atau sendiri?”

“Maaf, Malam.
Aku tak mengerti eksistensi.

Pun selama ini aku selalu diam mendengar tanyamu,
akankah berbeda jika kali ini kucoba jawab?”

Lalu setelah kunyatakan jawabanku:
“Tidak, kami palsu dan terpisah.”,
Sunyi, gelap, dan semua lainnya menghampiri.
Menepuk pundakku, menyanyikan lagu sedih, lalu

menelanku tanpa sisa, menjadikanku tiada.

“Jawabanmu benar, tapi
bukan itu jawaban yang ku mau.
Seharusnya kamu bohong.”

ri(e)

Aku ingin mencintaimu dengan rumit.
Begitu rumit hingga kamu tak perlu mengerti.
Begitu rumit hingga kamu tak perlu peduli.
Begitu rumit hingga takkan kamu temukan yang mampu
mencintaimu sepertiku.

Karena pada rumit, aku sederhana;
Meski padamu, aku rumit.
Begitu rumit hingga aku tak mengerti
sama sekali.

Maka pada waktu, aku mengharap bantu:
Mengurai rasa yang kusut,
dan tanya yang tiada usut.

Dan tentangmu, aku berharap:
Kamu mengerti,

Ri.

SEMU

Aku, kau,
sama: semu.

“Kita angin!”
kata Ingin.

Tapi muara kata
– pita suara kita –
kini tak disini.

.

Kita ingin angin
bawa wabah kata
kembali pergi.

Agar raga
aku, kau,
nyata tanpa tanya.

Karna jika,
hanya jika,
tiada ikat
pada kita,
kita nyata.

Tapi nyatanya,
aku, kau,
sama: semu.